Asal Mula Kecemasan
Freud melihat kecemasan sebagai bagian penting dari sistem kepribadian, hal yang merupakan suatu landasan dan pusat dari perkembangan perilaku neurosis dan psikosis.
Janin saat dalam masa kandungan merasa dalam dunia yang nyaman, stabil dan aman dengan
setiap kebutuhan dapat dipuaskan tanpa ada penundaan. Tiba-tiba saat lahir
individu dihadapkan pada lingkungan yang bermusuhan . Individu kemudian harus
beradaptasi dengan realitas, yaitu kebutuhan instinktual tidak selalu dapat
ditemukan. Sistem saraf bayi yang baru lahir masih mentah dan belum tersiapkan,
tiba-tiba dibombardir dengan stimulus sensorik yang keras dan terus-menerus.
Trauma lahir, dengan peningkatan kecemasan dan ketakutan bahwa
Id (aspek dari kepribadian
yang berhubungan dengan dorongan insting yang merupakan sumber energi
psikis yang bekerja berdasarkan prinsip kepuasan/pleasure
principle dan selalu ingin dipuaskan) tidak dapat terpuaskan merupakan pengalaman pertama individu dengan ketakutan dan
kecemasan. Dari pengalaman ini diciptakan pola teladan
dari reaksi dan tingkat perasaan yang akan terjadi
kapan saja pada individu yang ditunjukkan
bila berhadapan dengan bahaya di masa depan. Ketika individu tidak mampu melakukan coping terhadap
anxietasnya pada waktu dalam
keadaan bahaya atau berlebihan, maka kecemasan
itu disebut sebagai
traumatik. Apa yang dimaksud
Freud dengan hal ini adalah individu, tak dihitung berapa usianya, mundur
pada suatu tahapan
tak berdaya sama
sekali,seperti keadaan pada janin. Pada
kehidupan dewasa, ketidakberdayaan infantil diberlakukan kembali, untuk
beberapa tingkatan, dimana ego terancam.
Kecemasan Menurut Freud
Freud membagi kecemasan menjadi tiga, yaitu:
a.
Kecemasan Realitas
atau Objektif (Reality or Objective
Anxiety)
Suatu kecemasan yang bersumber dari adanya ketakutan terhadap bahaya yang mengancam di dunia nyata. Kecemasan
seperti ini misalnya ketakutan terhadap kebakaran, angin tornado, gempa bumi,
atau binatang buas. Kecemasan ini menuntun kita untuk berperilaku bagaimana menghadapi bahaya. Tidak jarang
ketakutan yang bersumber pada
realitas ini menjadi ekstrim.
Seseorang dapat menjadi sangat takut untuk keluar rumah karena takut
terjadi kecelakaan pada dirinya atau takut
menyalakan korek api
karena takut terjadi kebakaran.3,4
b. Kecemasan Neurosis (Neurotic Anxiety)
Kecemasan ini mempunyai dasar
pada masa kecil,
pada konflik antara pemuasan instingtual dan realitas. Pada masa kecil,
terkadang beberapa kali seorang anak
mengalami hukuman dari orang tua akibat pemenuhan kebutuhan id yang implusif
Terutama sekali yang
berhubungan dengan pemenuhan insting seksual atau agresif.
Anak biasanya dihukum karena secara berlebihan
mengekspresikan impuls seksual atau agresifnya itu. Kecemasan atau ketakutan untuk
itu berkembang karena
adanya harapan untuk memuaskan impuls Id tertentu. Kecemasan
neurotik yang muncul adalah ketakutan akan terkena hukuman karena memperlihatkan perilaku impulsif
yang didominasi oleh Id. Hal yang perlu
diperhatikan adalah ketakutan terjadi bukan karena ketakutan terhadap insting tersebut tapi merupakan
ketakutan atas apa
yang akan terjadi
bila insting tersebut dipuaskan. Konflik
yang terjadi adalah di antara Id dan Ego
yang kita ketahui mempunyai dasar dalam realitas.3,4
c. Kecemasan Moral (Moral Anxiety)
Kecemasan ini merupakan hasil dari
konflik antara Id dan superego. Secara dasar merupakan ketakutan akan suara hati individu sendiri.
Ketika individu termotivasi untuk mengekspresikan impuls instingtual
yang berlawanan dengan nilai
moral yang termaksud dalam superego individu itu maka ia akan merasa malu atau bersalah.
Pada kehidupan sehari-hari ia akan menemukan dirinya sebagai “conscience stricken”. Kecemasan moral
menjelaskan bagaimana berkembangnya superego. Biasanya individu dengan kata hati yang kuat dan puri-
tan akan mengalami konfllik yang lebih hebat
daripada individu yang mempunyai kondisi toleransi moral
yang
lebih longgar. Seperti kecemasan
neurosis, kecemasan moral juga mempunyai dasar dalam kehidupan nyata. Anak-anak
akan dihukum bila melanggar aturan yang ditetapkan orang tua mereka. Orang
dewasa juga akan mendapatkan hukuman jika melanggar norma yang ada di masyarakat. Rasa malu dan perasaan bersalah
menyertai kecemasan moral. Dapat dikatakan bahwa yang menyebabkan
kecemasan adalah kata hati individu itu sendiri.
Freud mengatakan bahwa superego dapat
memberikan balasan yang setimpal karena pelanggaran
terhadap aturan moral.3,4
Apapun tipenya, kecemasan
merupakan suatu tanda peringatan kepada individu. Hal ini menyebabkan tekanan
pada individu dan menjadi dorongan pada individu ter- motivasi untuk memuaskan. Tekanan ini harus dikurangi. Kecemasan memberikan peringatan
kepada individu bahwa ego sedang dalam ancaman dan oleh karena itu apabila
tidak ada tindakan
maka ego akan terbuang
secara keseluruhan. Ada
berbagai cara ego melindungi dan mempertahankan dirinya. Individu akan mencoba lari dari situasi
yang mengancam serta berusaha untuk membatasi
kebutuhan impuls yang merupakan sumber
bahaya. Individu juga dapat
mengikuti kata hatinya. Atau jika tidak ada teknik rasional yang bekerja,
individu dapat memakai mekanisme pertahanan (defence
mechanism) yang non-rasional untuk mempertahankan ego.
Kecemasan Neurosis
Freud
membagi kecemasan neurosis (neorotic
anxiety)
menjadi tiga bagian yang berbeda seperti di bawah ini:5
a.
kecemasan yang didapat karena
adanya faktor dalam
dan luar yang menakutkan
b.
kecemasan
yang terkait dengan objek tertentu yang bermanifestasi seperti fobia
c.
kecemasan
neurotik yang tidak berhubungan dengan faktor-faktor berbahaya dari dalam
dan luar.
Kecemasan yang bermanifestasi dalam
gangguan panik merupakan bagian
dari kelompok yang ketiga, terutama
jika penderita pada serangan
pertama tidak mampu menjelaskan
hubungan antara pengalaman itu dengan adanya
bahaya yang mampu dikenali.
Gejala fisiologis yang timbul pada saat serangan panik tersebut seperti
palpitasi, dispnea, adanya rasa takut mati, dan adanya kecemasan akan
terulangnya kejadian tersebut. Perasaan takut gila juga sering terdapat pada serangan panik karena ketidakmampuan penderita mengkontrol pikirannya saat itu. Saat serangan panik
timbul pertama kali misalnya di tempat umum saat makan di restoran,
mengendarai bus atau berjalan di pasar, maka akan ada rasa
ketakutan yang berupa fobia di mana penderita merasakan ketakutan jika serangan itu terjadi lagi dalam keadaan demikian sehingga dia
berusaha untuk menghindari keadaan tersebut. Dalam klinik kita kenal sebagai
agorafobia. Ada
perbedaan yang mencolok antara
ketakutan pada situasi tertentu (fobia khas) dengan gangguan panik, yaitu bahwa
fobia khas biasanya berhubungan dengan situasi tertentu yang penderita ketahui dan ada kecenderungan
untuk menghindari situasi
tertentu itu. Sedang
pada serangan panik terkadang penderita tidak
mengetahui keadaan atau situasi tertentu yang memicu timbulnya serangan panik.
Menurut
klasifikasi Freud fobia khas yang disebut sebagai
psychoneurosis dan kecemasan
neurosis yang disebut neurosis
yang sebenarnya (actual neurosis) ber-
beda. Hal ini dikarenakan bahwa ide dasar pada psiko-neu- rosis ditandai oleh tanda
kecemasan yang mengingatkan kepada situasi bahaya yang pernah ditemui
sebelumnya, sedangkan kecemasan neurosis dan segala bentuk neurosis yang sesungguhnya
merupakan kecemasan yang ber- hubungan dengan pengalaman sekarang
dari ketidak-puasan libido. Pada kecemasan jenis
ini energi libido
atau dorongan seksual tidak
terpuaskan dan terganggu pada saat pele- pasannya. Salah satu yang membedakan
dengan fobia atau histeria adalah bahwa gangguan
ini berasal dari per- kembangan seksual infantil. Menurut
Freud, munculnya kecemasan pada kecemasan neurosis bukanlah berasal dari sebuah konflik akan tetapi
berasal dari konsepsi
asli dengan tidak dilepaskannya libido yang kemudian
berubah menjadi kecemasan
dalam bentuknya yang beracun. Hal ini dapat menjelaskan
mengapa pada kecemasan neurosis akan mencapai sebuah tahapan
panik sedangkan pada fobia tetap merupakan
suatu sinyal kewaspadaan yang membuat penderita menghindari bahaya atau situasi yang dari pengalamannya dapat menyebabkan suatu
kecemasan. Akan tetapi
penjelasan di atas tidak dapat sepenuhnya diambil sebagai suatu pegangan yang
mutlak. Kenyataan bahwa pada penderita fobia yang mengalami serangan panik jika
tidak mampu menghindari atau terjebak dalam suasana yang menakutkan (fobic situation)
membuat kita dapat mengatakan
bahwa pada dasarnya
kecemasan pada fobia
dan kecemasan neurosis
berasal dari sumber yang sama. Pada kecemasan neurosis manifestasi kecemasan terlihat lebih nyata daripada fobia karena mekanisme pertahanan pada kecemasan neuro- sis bermula sejak mula dan tidak
sempurna terbentuk seperti pada pasien fobia. Atau
mekanisme pertahanannya tidak
siap dimobilisasi segera untuk digunakan oleh the self sebagai imbas dari pikiran-pikiran atau fantasi nirsadar
atau prasadar. Tanda kecemasan yang akan mengaktifkan mekanisme per-
tahanan tidak terjadi, sehingga kecemasan akan mengambil
bentuk primer dari kecemasan yang berujung pada serangan
panik.
Freud mengatakan bahwa ada empat
bentuk kecemasan yang berhubungan dengan fase perkembangan anak. Bentuk yang paling
awal muncul adalah kecemasan terhadap
disintegrasi atau penghancuran diri saat bayi baru pertama kali datang
ke dunia ini. Kecemasan berikutnya adalah kecemasan
perpisahan yang dirasakan oleh bayi karena perpisahan
dengan ibunya. Ketiga adalah kecemasan yang berhubungan
dengan fase psikoseksual menurut Freud, ketika anak perempuan mempunyai kecemasan akan hilangnya figur yang bermakna yaitu ibunya dan anak laki- laki mempunyai kecemasan mengalami pemotongan penisnya
yang dilakukan oleh figur berkuasa yaitu ayahnya sendiri atau sering
disebut castration anxiety. Kecemasan
terakhir yaitu kecemasan superego
yaitu ketika figur
orangtua sudah mulai terbentuk
sehingga anak mempunyai kecemasan bahwa suatu
saat orang tua dapat menghentikan cintanya kepada dirinya atau memarahi
dirinya.2 Walau
ide tentang adanya perpisahan atau ancaman perpisahan dengan ibu
cocok dengan adanya suatu peringatan
terhadap the self akibat perpisahan
tersebut, namun dirasakan tidak cocok untuk mengerti
kebanyakan dari gejala serangan panik yaitu disintegrasi dari the self dan pemusnahan diri.
Freud sudah berusaha keras untuk mencari bentuk prototipe yang secara
umum cocok untuk
semua bentuk dari kecemasan. Dia juga mengatakan bahwa
trauma lahir yang diperkenalkan oleh Rank merupakan pengalaman paling dasar dari kecemasan.
Perkembangan psikoanalisis sekarang ini terutama pada teori narsisistik dan diri telah banyak memberikan penge-
tahuan yang lebih terhadap pemahaman dari asal muasal kecemasan/panik. Pada teori psikologi diri (self psychology)
yang diperkenalkan oleh
Kohut ada penambahan dari bentuk
kecemasan yang diperkenalkan Freud. Dua tambahan itu adalah kecemasan akan disintegrasi diri dan kecemasan akan pemusnahan diri. Ada kemiripan antara bentuk kecemasan ini dengan
ketakutan menjadi gila dan ketakutan akan
kematian pada penderita serangan panik. Namun hal ini berbeda dengan pengalaman nyata disintegrasi diri dan pemusnahan diri pada pengalaman
prepsikotik pada pasien dengan gangguan kepribadian narsisistik yang berat.
Perbedaan lain adalah
bahwa regresi pada pasien panik
lebih terbatas daripada pasien dengan
gangguan kepribadian narsisistik.
Struktur ego pada individu dengan kecemasan panik
lebih kuat daripada individu dengan gangguan
kepribadian narsisistik.5
Mekanisme Pertahanan terhadap Kecemasan
Kecemasan
berfungsi sebagai tanda adanya bahaya yang
akan terjadi, suatu ancaman terhadap ego yang harus dihindari atau dilawan. Dalam
hal ini ego harus mengurangi konflik antara kemauan Id dan
Superego. Konflik ini akan selalu ada dalam kehidupan manusia
karena menurut Freud, insting akan selalu mencari
pemuasan sedangkan lingkungan sosial dan moral membatasi
pemuasan tersebut. Sehingga menurut Freud
suatu pertahanan akan selalu beroperasi
secara luas dalam
segi kehidupan manusia.
Layaknya semua perilaku dimotivasi oleh insting, begitu juga semua perilaku
mempunyai pertahanan secara alami, dalam hal untuk melawan
kecemasan.
Freud membuat
postulat tentang beberapa mekanisme pertahanan namun mencatat bahwa jarang
sekali individu menggunakan hanya satu pertahanan saja. Biasanya individu akan menggunakan beberapa
mekanisme pertahanan pada satu saat yang bersamaan. Ada dua karakteristik
penting dari mekanisme pertahanan. Pertama adalah bahwa mereka merupakan bentuk
penolakan atau gangguan terhadap
realitas. Kedua adalah bahwa mekanisme pertahanan berlangsung
tanpa disadari. Kita sebenarnya berbohong pada diri kita sendiri namun tidak
menyadari telah berlaku demikian. Tentu saja
jika kita mengetahui bahwa kita ber- bohong
maka mekanisme pertahanan tidak akan efektif. Jika mekanisme pertahanan bekerja dengan baik, pertahanan akan menjaga segala
ancaman tetap berada
di luar kesadaran kita. Sebagai hasilnya kita tidak mengetahui kebenaran tentang diri kita sendiri.
Kita telah terpecah oleh gambaran keinginan,
ketakutan, kepemilikan dan
segala macam lainnya.
Beberapa mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melawan kecemasan antara
lain adalah:
a.
Represi
Dalam terminologi Freud, represi adalah pelepasan tanpa sengaja sesuatu dari kesadaran (conscious). Pada dasarnya merupakan upaya penolakan secara
tidak sadar terhadap sesuatu yang membuat tidak nyaman atau menyakitkan. Konsep tentang represi
merupakan dasar dari sistem
kepribadian Freud dan berhubungan dengan semua perilaku neurosis.
b.
Reaksi Formasi
Reaksi formasi adalah bagaimana mengubah suatu impuls yang mengancam dan tidak sesuai serta tidak dapat
diterima norma sosial
diubah menjadi suatu
bentuk yang lebih dapat diterima.
Misalnya seorang yang mempunyai
impuls seksual yang tinggi menjadi
seorang yang dengan gigih
menentang pornografi. Lain lagi misalnya seseorang yang mempunyai
impuls agresif dalam dirinya
berubah menjadi orang yang ramah dan sangat ber- sahabat. Hal ini bukan berarti bahwa semua orang yang
menentang, misalnya peredaran film porno
adalah seorang yang mencoba
menutupi impuls seksualnya yang tinggi. Perbedaan antara perilaku yang
diperbuat merupakan benar-benar dengan
yang merupakan reaksi formasi adalah intensitas dan keekstrimannya.
c.
Proyeksi
Proyeksi adalah mekanisme
pertahanan dari individu yang menganggap suatu impuls yang tidak baik, agresif
dan tidak
dapat diterima sebagai bukan miliknya
melainkan milik orang
lain. Misalnya seseorang berkata “Aku tidak benci dia, dialah yang benci padaku”. Pada proyeksi impuls itu masih dapat
bermanifestasi namun dengan cara yang lebih dapat diterima oleh individu
tersebut.
d.
Regresi
Regresi adalah suatu mekanisme pertahanan saat individu kembali ke masa periode
awal dalam hidupnya yang lebih menyenangkan dan bebas
dari frustasi dan kecemasan yang saat ini dihadapi. Regresi biasanya berhubungan dengan kembalinya individu ke suatu tahap perkembangan psikoseksual. Individu
kembali ke masa dia merasa
lebih aman dari hidupnya dan di- manifestasikan oleh perilakunya di saat itu, seperti
kekanak-kanakan dan perilaku
dependen.
e.
Rasionalisasi
Rasionalisasi merupakan mekanisme
pertahanan yang melibatkan pemahaman kembali perilaku kita untuk membuatnya menjadi
lebih rasional dan dapat diterima
oleh kita. Kita berusaha memaafkan atau mempertim- bangkan suatu pemikiran
atau tindakan yang mengancam
kita dengan meyakinkan
diri kita sendiri bahwa ada alasan yang rasional
dibalik pikiran dan tindakan itu. Misalnya
seorang yang dipecat dari pekerjaan mengatakan bahwa
pekerjaannya itu memang tidak terlalu
bagus untuknya. Jika anda
sedang bermain tenis dan kalah maka anda akan menyalahkan raket dengan cara
membantingnya atau melemparnya daripada
anda menyalahkan diri anda
sendiri telah bermain buruk. Itulah yang dinamakan rasionalisasi. Hal ini
dilakukan karena dengan menya- lahkan objek atau orang lain akan sedikit
mengurangi ancaman pada individu itu.
f.
Pemindahan
Suatu mekanisme pertahanan dengan
cara memindahkan impuls
terhadap objek lain karena objek yang dapat memuaskan Id tidak tersedia.
Misalnya seorang anak yang kesal dan marah dengan orang tuanya, karena perasaan takut berhadapan dengan
orang tua maka rasa kesal dan marahnya itu ditimpakan kepada
adiknya yang kecil. Pada mekanisme ini objek pengganti
adalah suatu objek yang menurut individu
bukanlah merupakan suatu ancaman.
g.
Sublimasi
Berbeda dengan displacement yang mengganti objek untuk
memuaskan Id, sublimasi melibatkan perubahan atau
penggantian dari impuls Id itu sendiri.
Energi instingtual dialihkan ke bentuk ekspresi
lain, yang secara
sosial bukan hanya diterima namun dipuji. Misalnya energi seksual diubah
menjadi perilaku kreatif yang artistik.
h.
Isolasi
Isolasi adalah cara kita untuk menghindari perasaan yang tidak dapat diterima dengan cara melepaskan mereka dari peristiwa yang seharusnya mereka terikat, merepre-
sikannya dan bereaksi terhadap peristiwa tersebut tanpa
emosi. Hal ini sering terjadi pada psikoterapi. Pasien berkeinginan untuk
mengatakan kepada terapis tentang
perasaannya namun tidak ingin berkonfrontasi dengan perasaan yang dilibatkan
itu. Pasien kemudian akan menghubungkan perasaan tersebut
dengan cara pele- pasan yang tenang walau sebenarnya ada keinginan untuk
mengeksplorasi lebih jauh.
i.
Undoing
Dalam undoing, individu
akan melakukan perilaku
atau pikiran ritual dalam
upaya untuk mencegah impuls yang tidak dapat diterima. Misalnya pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif,
melakukan cuci tangan berulang kali demi melepaskan pikiran-pikiran seksual yang mengganggu.
j.
Intelektualisasi
Sering bersamaan dengan isolasi; individu mendapatkan
jarak yang lebih jauh dari emosinya dan menutupi hal tersebut dengan analisis
intelektual yang abstrak dari individu itu sendiri.
Daftar Pustaka
1.
Cameron N,
Rychlak JF. Personality Development and Psychopatology,
a dynamic
approach.2nd ed. Boston; Houghton
Mifflin Company; 1985.p.160-5
2.
Gabbard
GO. Psychoanalysis In: Kaplan H, Saddock B, editors. Comprehensive textbook of psychiatry vol
I. 7th ed. Philadel- phia:
Lippincot Williams and Wilkins;
2000.p.586-96
3.
Schultz
D. Psychoanalytic approach: Sigmund Freud in Theories of Personality. 3rd ed.
California: Brooks/Cole Publishing Com- pany; 1986.p.45-50
4.
Luban
B, Poldinger W. Psychosomatic
disorders in general prac- tice. 2nd ed. Roche;1985.p.186-8
5.
Vauhkonen
K. A Psychoanalytical approach of panic reaction. in many faces of panic disorder. Hangon
Kirjapaino Oy, Hanko. 1989.p.65-8
6.
Hall
CS, Lindzey G. Teori-teori
psikodinamik klinis. Yogyakarta; Penerbit Kanisisus. 1993.p.86-90
7.
Alloy
LB, Jacobson NS, Boston. Acocella; J. Abnormal Psycho- logy: Current perspectives. 8th ed. McGraw-Hill College.
1999.p.90-7.